permisiiiii..

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
hanya manusia biasa yang tidak sempurna tapi selalu ingin sesuatu yang luar biasa meskipun sampai harus ke luar angkasa.
Tampilkan postingan dengan label iseng-iseng berhadiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iseng-iseng berhadiah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 November 2013

Kita Muda, Bisa, dan Berbahaya

Halo, Kawan!!

Ya, Kawan. Lebih tepat kugunakan untuk merepresentasikan rekan-rekan kerjaku di Pemalang sekitar 9 bulan yang lalu. Terutama penghuni Mess Trans Quality berisikan anak-anak muda yang (mudah-mudahan) berbakat dan bersemangat, meskipun ada beberapa yang tidak bisa dibilang muda, tapi masih berjiwa muda. Hehehe.

Ya, 9 bulan adalah waktu yang cukup bagi seorang ibu mengandung anaknya hingga sang anak siap menghadapi kerasnya dunia persilatan. Begitu pula yang aku alami, 9 bulan ditempa dalam kandungan Proyek PDGT Pemalang dengan segala kelebihan dan kekurangannya, akhirnya tiba masaku untuk lahir ke dunia dan menghadapi berbagai tantangan yang lebih berwarna.

Ya, warna. Mereka telah memberikan titik-titik warna. Titik-titik yang kemudian kurangkai menjadi sebuah garis dan pola dalam mengisi kanvas hidupku.

Pepatah berkata, “pengalaman adalah guru yang paling berharga”, dan kurasakan itu. Pengalaman itu muncul dari sebuah sistem ekologi yang tersusun atas elemen biotik dan abiotik. Tanah, air, angin sepoi-sepoi, serta sinar mentari Pantai Utara Jawa merupakan elemen abiotik dalam pengalamanku di Pemalang. Sedangkan elemen abiotik-nya adalah mereka, ya, mereka. Makhluk-makhluk ajaib yang terdampar bersamaku dengan seragam dan bendera yang sama melebur jadi satu, hingga waktunya aku harus pergi dan menggapai impianku sendiri.

Aku memang egois. Kita memang egois.

Karena sesungguhnya masing-masing dari kita punya mimpi yang harus dan mampu dicapai oleh dan hanya oleh kita sendiri. Tidak dengan siapa-siapa.

Inilah hidup, Kawan!
Keras seperti batu. Tajam seperti pisau. Dan liar seperti kita.
Bukan rimba. Bukan.
Kita lebih liar dari rimba.
Karena kita muda, bisa, dan berbahaya.

Ingat, Kawan!
Kelak akan tiba masamu untuk lahir ke dunia. Dunia baru. Jauh berbeda dengan di dalam kandungan ibu, yang mau tidak mau harus kau hadapi itu.

Ini bukan masalah Sirandu, atau Pemandian Air Panas Guci itu. Ini masalah hidup. Hidupku atau hidupmu. Meskipun tak ada yang tahu apakah kelak hidupku masih akan bertemu lagi dengan hidupmu.

Hiduplah sehidup-hidupnya, Kawan!!

Karena kita muda, bisa, dan berbahaya. 



Tulisan ini kupersembahkan untukmu, Kawanku di Pemalang

Jumat, 15 Juli 2011

Satu Kosong; Sebuah Realita

Di suatu siang yang panas di bilangan Jakarta Barat, gw sedang duduk di belakang setir mobil sambil mengendarainya menuju arah tol Tangerang. Di samping kanan gw, Icang, partner Kerja Praktek gw di Greenbay Pluit Project, tengah duduk sembari jemarinya bermain dengan handphone barunya.

Tiba-tiba mobil yang sedang gw kendarai diminta untuk menepi oleh seorang bapak aparat penegak hukum sekaligus pelayan masyarakat. Berikut kutipan percakapannya.

Sambil membuka kaca, “selamat siang pak. Ada apa ya?”

“Siang, Mas. Mas bukan orang sini ya?”

“Iya Pak, kami dari Bandung. Tapi mau ke arah Tangerang. Memangnya ada apa ya, Pak?”

“Begini Mas, tadi Mas pindah jalur dari kiri ke kanan sehingga memotong laju kendaraan yang datang dari sebelah kanan. Itu tidak diperbolehkan Mas kalau di sini.”

“Oh, lalu kalau saya mau masuk tol Tangerang harus lewat mana ya pak? Soalnya saya tadi lihat papan penunjuk jalan kalau arah tol Tangerang itu lewat sini. Jadi kami yang saat itu sedang ada di jalur kiri harus pindah jalur ke kanan agar bisa masuk tol, Pak. Kalau nggak seperti itu bagaimana kami bisa menuju Tangerang? Lagipula kami tidak melanggar marka jalan kan, Pak?”

“Iya, Mas memang tidak melanggar marka jalan, tetapi Mas seharusnya tidak berpindah jalur karena untuk bisa menuju tol Tangerang nggak hanya lewat sini. Di depan sana (sambil menunjuk) akan ada lampu merah, kemudian Mas bisa belok kanan untuk masuk tol Tangerang.”

Wah, kalau gini ceritanya pasti semua orang yang bukan orang sini bakalan ngelanggar dong..
Bisa aja nih si Bapak.. (Ini suara hati gw saat itu)

“Jadi gimana nih, Mas?”

Gimana apanya, Pak?”

“Mas mau saya tilang?”

Ini si Bapak ngelawak apa serius sih? Lucu juga nih si Bapak. (Suara hati gw berpikir kalau ini natural)

“Lah, kalau saya memang salah menurut Bapak, silahkan tilang saya, pak!”

“Kalau ditilang mas harus datang ke pengadilannya loh. Mas bisa datang tanggal 22 Juli nanti?”

“Pengadilannya dimana ya, Pak?”

“Pengadilan Jakarta Barat sini. Dekat kan? Gimana?”

“Oke saya bisa kok, Pak. Tanggal 22 Juli kan, Pak?”

Kemudian si Bapak tampak sedang mengontak rekannya dengan alat handy talkie. “Tanggal 15 Juli bisa, Mas?”

“Wah, kenapa berubah, Pak? Tadi katanya tanggal 22 Juli..”

“Ternyata pengadilan baru bisa diadakan setelah seminggu dari waktu penilangan. Tapi jika terlalu lama juga kemungkinan pengadilannya juga nggak mau ngurusin. Nah, kebetulan seminggu dari hari ini adalah tanggal 15 Juli. ”

Aduh, tanggal 15 Juli kan ada wisuda HMS. Gimana yah? (Suara hati gw pun muncul lagi. Kali ini belum mulai muncul rasa curiga)

“Wah, saya nggak bisa kayaknya, Pak kalau tanggal 15 Juli. Saya ada wisuda. Saya kan mahasiswa, Pak. Gimana kalau tetap tanggal 22 Juli aja, Pak?”

“Jadi sebenarnya Mas ini mau ditilang atau nggak sih? Kok diminta untuk sidang nggak mau.”

“Kalau memang menururt Bapak saya salah, ya saya harus mau, Pak. Tapi saya bisanya tanggal 22 itu.”

“Wah, nggak bisa, Mas. Ini prosedurnya. Kalau memang nggak bisa datang, bisa titip kok.”

Ini udah mulai nggak bener nih.. (Suara hati gw mulai merasakan kejanggalan)

“Titip apa ya, Pak?”

“Ya titip denda, Mas. Jadi Masnya nggak perlu datang waktu sidang tanggal 15 Juli nanti tapi dendanya bisa tetap dibayar. (sambil menunjukkan ke gw surat tilang yang terdapat nominal denda yang cukup besar. Berkisar lima puluh ribu sampai satu juta rupiah)”

Tuh kan nggak bener.. (Suara hati gw emang yahud!)

“Aduh, Pak. Tanggal 22 aja yah, Pak. Saya betul-betul nggak bisa kalau tanggal 15. Tapi saya merasa jika saya memang salah saya harus disidang, Pak.”

Nggak bisa nih, Mas. Kalau mas mau disidang ya tanggal 15 Juli. Selain itu tidak bisa. Gimana, Mas? Saya nggak bisa lama-lama nih karena saya masih harus bertugas lagi. Nggak enak juga dilihat orang kalau lama-lama.”

Hah? Nggak enak? Kok negakkin peraturan malah nggak enak?. Udah nggak bener nih si Bapak. (Suara hati gw makin yakin kalau kondisi si Bapak saat ini sedang di atas angin lantaran gw seakan sedang berada dalam tekanannya.)

Gimana, Mas? Mau tetap sidang tanggal 15 atau titip sidang saja? Saya sudah tidak ada waktu lagi ini.”

“Mmm. Oke, Pak. Saya usahakan bisa datang tanggal 15 Juli.”

“Jangan “diusahakan”, harus dong kalau gitu! Nanti kalau surat ini sudah masuk pengadilan tapi Masnya nggak datang kan repot di saya. Kecuali Masnya sudah nitip sidang, lain ceritanya.”

“Oke, saya bisa datang, Pak.” (Ekspresi gw gw buat seakan-akan gw yakin secara tiba-tiba)

Bener nih, Mas? Kalau saya sudah menulis di surat tilang ini, Masnya harus benar-benar datang.” (Ekspresi si Bapak seketika berubah pucat)

“Bener, Pak. Saya rela mengorbankan wisuda saya karena kesalahan saya ini. Yah, jika memang saya benar-benar salah.”

Hahahahahaha. Dapet nih! (Suara hati gw mulai menunjukkan kemenangan.)

“Ah, Masnya keliatan nggak yakin nih buat datang sidang. Nanti percuma saya tulis disini ternyata Masnya nggak datang. Rugi di saya kalau begitu. Ya sudah, Masnya nggak usah saya tilang saja. Lain kali jangan diulang lagi ya!”

Hahahahahahahahaha. Ngakak gw! (Dengan suara hati tentunya.)

“Oh, terimakasih, Pak. Maafkan kami jika memang kami salah. Tenang aja, Pak, kami berusaha untuk tetap taat sama aturan kok. Selamat siang, Pak. Selamat melanjutkan tugas kembali.”

Kemudian gw menutup kaca seraya menginjak pedal gas lalu berteriak bersama-sama dengan Icang,

“Satu kosong booooyyyy..!!!!”

*Sayang seribu sayang si Icang nggak sempat merekam percakapan ini. Tapi gw jamin ini 100% nyata. Kalau nggak percaya, silahkan tanya si Bapak Pelayan Masyarakat itu atau mungkin teman-temannya.

Kamis, 07 Juli 2011

Semanis Brownies

6 Juni - 6 Juli 2011

Adalah waktu yang amat berharga untuk dilewati sekaligus amat menarik untuk diceritakan. Mengapa? Karena selama rentang waktu itu gw beserta partner gw, Fardy Muhammad Ichsan Sukirman (NIM 15008004), berusaha saling melengkapi satu sama lain demi terselesaikannya Kerja Praktek di Greenbay Pluit Project dengan baik, atau dalam bahasa kami, dengan manis, semanis brownies.


Kalau bicara soal Greenbay Pluit, mending kalian buka Greenbay Pluit aja biar lebih jelas. Tapi seperti kelompok-kelompok yang lainnya, kami juga melakukan kegiatan Kerja Praktek ini di salah satu perusahaan kontraktor terbesar di Indonesia. Tidak bermaksud melebih-lebihkan, tapi fakta bicara demikian. Hahaha.

Namanya PT. Total Bangun Persada. Sebuah kontraktor swasta yang saat ini sedang menangani 15 proyek sekaligus se-Indonesia ini yang bersedia menampung kami-kami ini yang haus akan ilmu (baca: gw dan Icang) untuk belajar sekaligus "mencuri" data selama sebulan, tidak lebih tidak kurang.
Terimakasih kepada Ibu Keyma, Pak Agung, Pak Wahyu, Pak Rushendi, Pak Punguan, Pak Irwanto, Pak Dwi, Pak Bayu, Pak Adri, Pak Sinaga, Pak Budi, Pak Awan, Pak Udin, Pak Micky, Pak Sas, Pak Anggoro, Pak Eric, Ibu Dwi, Ibu Winda, Pak Yandrie, Pak Bambang, Pak Tarsim, Pak Toto, Ibu Desi, Ibu Wanti, Pak Nurjaya, Pak Zul, Pak Wardi, Pak Santos, Aa Yumi, juga teman-teman seperjuangan dari UI (Dila, Inal, dan Reza) dan dari UNPAR (Andy, Alvin, dan Naldy), serta yang pasti Pak Henry, yang senantiasa rela "diganggu" oleh kami yang haus ilmu ini. *lebay

Oke. Singkat cerita gw dan Icang melalui hari-hari di proyek selama sebulan bersama bapak-bapak dan rekan-rekan yang tadi sudah gw sebutkan satu persatu. Hingga tibalah waktu jua yang memisahkan kita.

Sebelum kami berpisah, gw dan Icang berpikir untuk membelikan sesuatu yang cukup menggambarkan rasa terimakasih gw kepada mereka. Dan pilihannya jatuh kepadaaaaa.....

Brownies "Amanda"

Ketika itu gw berpikir mengenai kue manis itu. 
Brownies, menurut situs The Amazing of Brownies, menurut kabar, terciptanya brownies adalah karena ketidaksengajaan alias lalainya sang pembuat dalam mengolah kue dan memasukkan baking powder. Sehingga, kue cokelat yang hendak dibuatnya menjadi tidak mengembang. Namun sayangnya justru karena "ketidaksengajaan" itu malah membuat resep brownies ini ingin disebarluaskan. Resep brownies pertama kali dipublikasikan tahun 1897 di Sears, Roebuck Catalogue. Dalam sejarah kuliner, brownies termasuk katagori cookie, kue kecil berbahan dasar tepung, rasanya manis, dengan tekstur lembut dan renyah.

Yap, meskipun ini dengan "sengaja", finally gw dan Icang memutuskan untuk mengakhiri Kerja Praktek manis dengan orang-orang termanis ini dengan sesuatu yang manis. Semanis brownies.

Minggu, 29 Mei 2011

Frustrasi, bukan Frustasi!

Awalnya cuma gara-gara gw ngerjain suatu teka-teki silang di koran Kompas pagi ini, tapi malah jadi kepikiran dan membuat gw pengen nulis di sini.
mendatar :
28. Kecewa karena gagal meraih suatu cita-cita; 9 kotak.
Tadinya gw berpikir jawabannya adalah "frustasi". Namun ternyata kata "frustasi" hanyalah terdiri dari 8 huruf sedangkan yang dicari harus terdiri dari 9 kotak. Bahkan gw sempat berpikir kalau soalnya yang salah atau kotaknya salah.
Tapi kemudian gw terinspirasi untuk menggunakan sebuah search engine paling terkemuka di dunia (saat ini) yaitu Google. Inilah hasil pencariannya :


Ternyata memang ada kata "frustrasi" dan bukanlah "frustasi". Bahasa "frustasi" hanyalah bahasa yang seringkali kita gunakan namun sebenarnya bukanlah bahasa baku (meskipun Google menganggapnya benar). Sedangkan "frustrasi"-lah yang sebenarnya bahasa Indonesia yang baku dan ada maknanya dalam KBBI.
Dalam KBBI, "frustrasi" bermakna: [n] rasa kecewa akibat kegagalan di dl mengerjakan sesuatu atau akibat tidak berhasil dl mencapai suatu cita-cita: -- dapat timbul apabila jurang antara harapan dan hasil yg diperoleh tidak sesuai.
Dengan demikian, cocok sudah kata ini dengan pertanyaan pada soal teka-teki silang Kompas sehingga gw bisa melanjutkan pengerjaan TTS dengan riang gembira (nggak juga sih..).

FRUSTRASI
Menurut Drs. H. Ahmad Fauzi (juga menurut Google) dalam bukunya yang berjudul Psikologi Umum, ternyata ada tiga jenis frustrasi, yakni:
1. Frustrasi Lingkungan
---Frustrasi yang disebabkan oleh halangan /rintangan yang terdapat dalam lingkungan (faktor eksternal).
2. Frustrasi Pribadi
---Frutrasi yang tumbuh dari ketidakpuasan seseorang dalam mencapai tujuan dengan perkataan lain frustrasi pribadi ini terjadi karena adanya perbedaan antara tingkatan aspirasi dengan tingkatan kemampuannya.
3. Frustrasi Konflik
---Frustrasi yang disebabkan oleh konflik dari berbagai motif dalam diri seseorang. Dengan adanya motif saling bertentangan, maka pemuasan dari salah satu motif akan meyebabkan frustrasi bagi motif yang lain.

Sebenarnya gw juga agak nggak ngeh soal psikologi, tapi di sini paling tidak gw nggak sia-sia melakukan suatu pencarian terhadap satu kata dalam bahasa Indonesia yang (baru) gw tahu hari ini.

Intinya. 
Jadi buat teman-teman semua, gw cuma bisa ngasih tau kalau bahasa kita itu masih sangat besar peluang untuk kita explore lebih dalam lagi dan cari tahu lebih banyak lagi. Jangan cuma menjadi user terhadap bahasa kita sendiri, tapi jadilah owner sehingga kita mampu berbuat lebih banyak untuk Ibu Pertiwi.

Sabtu, 07 Mei 2011

Djogja 40 jam; sebuah perjalanan

From Bandung to Djogja (21-22 April 2011)

Berawal  dari konflik batin antara diri gw dengan banyak hal yang terjadi di sekitar gw, akhirnya gw putuskan untuk pergi ke Djogja seorang diri!!

Sebenarnya prinsip yang gw pegang sangat mudah, “work hard, play must be harder.” Hehehe..
Dimulai dengan diantar Andi ke stasiun Kiaracondong jam 7 malam setelah sebelumnya makan dulu di angkringan versi Bandung. Jam 07.30 sampai di stasiun lalu mulai menunggu hingga jam 08.50-an akhirnya keretanya datang.

Penumpang kala tu membludak. Maklum, namanya juga long weekend, bahkan gw hampir aja nggak terangkut kereta. Alhamdulillah gw masih diizinkan sama Allah untuk tetap berangkat ke Djogja saat itu. Sebenarnya gw cuma dapat “tempat jongkok” (karena memang nggak ada kursinya) di sebuah gerbong yang seharusnya tidak diperbolehkan adanya penumpang disana. Tetapi karena ini adalah special case maka mau nggak mau diperbolehkan juga sama para bapak petugas kereta.

Djogja; the magnificent city (22 April 2011)

Jam di hape Nokia tipe X3-O2 gw menunjukkan angka 7.00 saat gw tiba di stasiun Lempuyangan Yogyakarta. Setelah selesai bebersih dan solat subuh (namanya juga musafir), gw kemudian menunggu djemput oleh Sdr. Tomy Novendri, sahabat sekaligus tour guide  gw di wisata gw kali ini, yang baru datang setelah satu jam kemudian.

Nggak lama kemudian, gw langsung diajak sarapan kombinasi nasi putih-telur dadar-sambal-es milo-gorengan di (tempat yang baru pertama gw denger namanya) Burjo di dekat rumah kontrakan Tomy. Menurut tour guide yang gw sewa, Burjo adalah istilah untuk warung indomie, warung kopi, warung nasi, dan warung bubur kacang ijo yang digabung menjadi satu dan berlaku di setiap sudut kota Djogja!

Oke, tampaknya harus ada beberapa bagian dalam cerita ini yang gw sensor. Misalnya pas gw mandi, ganti baju, dan beberapa hal detail lagi sepertinya nggak perlu gw ceritakan lah yaaaaa....

Lanjut pada saat sore hari gw langsung diajak Sdr. Tomy menuju Benteng Vredeburg. Rencananya sih disana ada sahabat gw juga yang menanti. Sebut saja Sigit (nama sebenarnya). Ternyata oh ternyata ketika gw sampai di benteng, pintu masuk benteng sudah ditutup! Sial! Akhirnya untuk mengobati luka hati gw, Tomy pun menawarkan jasanya untuk mengambil beberapa gambar Benteng Vredeburg disertai dengan adanya gw sebagai penampakan di sana. 


Setelah mengambil cukup gambar (total: 2 foto), bertemu lah kami dengan Bung Sigit. Wah, tidak banyak berubah dia. Hanya saja logatnya sudah menjadi logat wong djogjo.

Git, makan yang enak dimana nih?”, gw akhirnya bertanya setelah dari tadi menahan lapar yang amat sangat menyiksa. Seketika pula Sigit mengajak kami (gw dan Tomy) ke sebuah toko batik di daerah sekitar sana bernama Mirota Batik

Orang laper ko dibawa kesini sih...”, gw bergumam pelan.

Santai liif..”, timpal Sigit. 

Ternyata setelah masuk dan dibawa ke lantai paling atas di toko itu barulah gw terkejut sekaligus terpesona dengan keunikan tempat itu. Ada roof top restaurant di sana. Suasananya pun cukup cozy apalagi dengan sajian menu khas djogja yang amat mengundang selera. Langsung aja gw pesan nasi gudeg dan susu jahe dengan total harga 14.500 rupiah. Mmmm...sepertinya gw nggak perlu njelasin lagi apa itu gudeg dan susu jahe ya kaaan?

Lagi asyik-asyiknya berbincang, tiba-tiba lampu restoran dipadamkan dan lampu panggung di dekat meja kami makan pun dinyalakan. Oooohhh, ternyata akan ada pertunjukkan kabaret malam ini. Tapi ko...gw menangkap sinyal-sinyal keganjilan di sana. Rupanya yg bermain kabaret adalah B to the A to the N to the C to the I alias BANCI!! Sial! Tapi yang justru lebih mengherankan adalah penonton yang hadir di sana kala itu (selain kami bertiga) nampak sangat excited. Namun nggak lama setelah itu teman kami satu lagi, Nurmin (ini baru bukan nama sebenarnya), akhirnya menelpon dan bilang bahwa dia sudah menunggu di alun-alun. Oke, kita cabut daripada makin malam panggung ini (bisa saja) menjadi makin liar...raawwrrrr.!

 ini nih menu utama malam itu

Malam itu begitu indah ketika gw merasa keputusan yang gw ambil adalah keputusan yang amat tepat. Makanya saat gw sampai di alun-alun kidul a.k.a. alkid, gw langsung memesan semangkok wedang ronde seharga 5000 rupiah seraya mengambil hape X3-O2 gw dan mengirimkan sebuah pesan singkat ke beberapa sahabat gw yang sedang ada di Bandung kala itu. Sebenarnya gw gak pengen nyebut nama mereka, tapi karena ada request akan gw sebutkan satu persatu. Sahabat-sahabat gw yang sedang tidak beruntung waktu itu (menurut gw) adalah Dikka Bayu Prihananta (NIM 15008062), Aditya Ramadhan (NIM 15008061), dan, ini yang menurut gw paling kasian (haha), Mohamad Ashyari Sastrosubroto (NIM 15008028). Mengenai isi sms-nya sepertinya mereka bertiga lebih hafal daripada gw pribadi. Hahaha..

Oke, cukup untuk hari pertama gw di Djogja dan seperti yang sudah gw katakan sebelumnya akan ada bagian-bagian tertentu yang gw sensor.....45$%#$$%#$^&*(&

Selamat pagi kota pendidikan!! (23 April 2011)

Disinilah kota pertama kali NKRI benar-benar dibentuk. Maka dari itu tak heran ketika Presiden Soekarno saat itu melakukan suatu Ijab Qobul (serah terima) kekuasaan yang sampai hari ini masih disepakati oleh masyarakat Djogja sehingga ketika Presiden SBY beberapa waktu yang lalu menginginkan sistem gubernur yang dipisah oleh sistem kraton, wong djogjo pun menolaknya.

Oke, kembali ke perjalanan wisata gw yang bertajuk Alone in Djogja.

Setelah cukup sarapan pagi di depan kampus UII, bukan NII, gw dan tour guide gw (Tomy) langsung tancap gas ke arah Pantai Sundak, kira-kira 1.5-2 jam dari kota Yogyakarta. Perjalanan ke sana (menurut gw) amat berkesan. Pertama, kita, baik gw maupun Tomy, sama-sama nggak tahu dimana tepatnya Pantai Sundak itu. Kedua, motor kami (baca: ban depan) bocor saat sebentar lagi sampai di Sundak. Kenapa gw tahu sebentar? Karena menurut penduduk setempat (lebih tepatnya tukang tambal ban setempat), Sundak tinggal sekitar 2 km lagi.



Finally, sampai lah kita di pantai sepi tanpa aliran listrik dan hanya mengandalkan swadaya masyarakat setempat dengan menggunakan genset hasil urunan warga dikenal dengan nama Pantai Sundak. Rasanya kata-kata yang gw coba tuangkan dalam tulisan ini nggak cukup mengambarkan keindahan lekuk tubuh pantai itu. Karenanya, monggo dilihat foto-foto yang sempat gw ambil di sana.

Oh iya, tadinya gw pengen ngambil beberapa souvenirs dari Sundak seperti pasir pantai, kerang laut, atau malah kepiting-kepiting kecil. Tapiiii..gw teringat semboyan kelompok pecinta alam (dulu gw juga anak pecinta alam kalii) yang berbunyi “take nothing but picture, kill nothing but time, leave nothing but footprints”. Jadi ngerti lah ya.! *maksa.

Beres dari pantai sepi nun jauh di sana a.k.a Sundak, kami langsung menuju ke Tamansari. Tamansari itu bukan daerah sekitar ITB, Unisba, atau malah Sabuga. Tapi Tamansari ala Yogyakarta adalah tempat pemandian para selir raja Kraton Djogja dulu. Bahkan di tempat itu disediakan tempat raja untuk menonton selir-selirnya mandi. Berikut penampakannya gw ambil dari tempat sang raja menonton. 

 foto ini (tepat di atas) diambil di tempat raja menonton selir-selirnya mandi

Akhirnya Tamansari adalah tempat kunjungan terakhir gw di kota Yogyakarta ini. Setelah dirasa cukup lapar, gw (masih) ditemani Tomy menuju angkringan versi Djogja. And you know what? Dengan harga 7500 rupiah gw bisa makan nasi+tempe (3 bungkus), sate usus (2 tusuk), sate telor (1 tusuk), gorengan (2 buah), dan 1 gelas teh manis hangat. Kalo dikonversi ke harga angkringan versi Bandung menjadi 13000 rupiah. Hampir 2 kali lipatnya bung! Hahaha.
Tiiit..tiiiit.. (eh,jangan jorok!) Begitu bunyi sinyal sms Nokia X3-O2 gw. Ternyata sebuah pesan singkat dari Andi. “Lip, gw nitip oleh2 gelang dong! Thx ya.”

Tiba saat waktu memisahkan kita. Gw harus sudah sampai di stasiun Lempuyangan jam 20.30 karena kereta ekonomi Kahuripan akan bertolak ke Bandung jam 21.30. Nggak lupa gw beli cemilan (tiket juga serta oleh-oleh buat si Andi dan kawan-kawan HMS) sebelum akhirnya berpamitan serta mengucapkan banyak terima kasih kepada Tomy lalu masuk ke dalam kerta ekonomi penuh sesak.

Good morning Bandung! Time to back to the reality. (24 April 2011)

Angka di Nokia X3-O2 gw menunjukkan jam 07.30 dan sinyal sms. Dari Ary Hafiandi: “Lip, mau gw jemput gak?” Langsung gw reply, “Boleh, langsung sini ndi..gw udah nyampe!”
Singkat cerita, Andi berhasil jemput gw dan mengantarkan gw dengan selamat ke kampus. Sebelum dia pergi meninggalkan gw, gw kasih titipannya teriring terima kasih yang tulus dari lubuk sanubari terdalam.

Yak. That was my new experience. Jalan-jalan ke Yogyakarta sendirian. Jadi pesannya adalah jangan takut sendirian! Hahaha. Dan buat teman-teman yang tadi sudah gw sebutkan di atas, terima kasih sebanyak-banyaknya karena kalian telah mengisi beberapa lembar cerita dalam buku kehidupan gw.

Terima kasih Djogja!

Terima kasih kawan!

Terima kasih Tuhan!

Rabu, 08 Desember 2010

Sepakbola Indonesia dan HMS

Begitulah judul tulisanku kali ini. Lalu ada apa dengan sepakbola Indonesia dan HMS?
Apa keterkaitannya?
Mari kita temukan disini.

Awalnya aku hanya sekedar iseng-iseng browsing di situs goal.com. Di sana ternyata banyak diliput (bahkan judulnya LIPUTAN KHUSUS) mengenai sepakbola Indonesia yang baru-baru ini sangat fenomenal dengan rekornya di Kejuaraan Piala AFF 2010 yang selalu mendulang poin penuh di tiga pertandingan awal.

Indonesia 5 - 1 Malaysia
Indonesia 6 - 0 Laos
Indonesia 2 - 1 Thailand

Tapi di sampin itu semua, hal yang paling menyita perhatianku adalah sebuah artikel di goal.com menyebutkan bahwa dunia sepakbola Italia dan Inggris mendukung revolusi di tubuh PSSI. 
note : bagi yang belum tau --> Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia ^-^

Satu statement dari Direktur Goal.com Italia, Sergio Stanco, yang amat memikat hatiku.
Begini bunyinya :

"Cara-cara terbaik adalah membuka kemungkinan untuk membangun organisasi baru yang sungguh-sungguh, tapi hal itu saya akui tidak akan mudah."

"Semangat Indonesia harus dimulai dari fans, dan bukan dari organisasi. Membangun stadion yang nyaman dan memberikan kesempatan buat suporter 'bernafas' sepakbola. Itulah cara terbaik. Kami mempunyai masalah yang sama di Italia,"


Lalu apa hubungannya dengan HMS??????

Hubungannya adalah..
Kami juga mempunyai masalah yang sama.

Bagaimana menurut anda?
 

Sabtu, 04 Desember 2010

Seseorang Bicara, Wakil Presiden Tak Pernah Bicara

Sabtu sore, H-2 UAS Semester Ganjil T.A. 2010/2011.
Awalnya iseng, tapi ketagihan.
Inilah yang berhasil ku temukan.


"Aku punya Wakil Presiden, tapi di Negeriku dia hanya pajangan. Ditaruh di foto sebelah kanan samping burung garuda. Dia tak pernah bicara. Sedemikian pendiamnya sampai-sampai setiap momen dan peristiwa negeri tak pernah ditanggapinya. Berbeda dengan Wakil Presiden yang dulu, yang lebih lincah, lebih banyak bicara, lebih banyak bersuara, lebih banyak bertindak. Sampai-sampai Rakyat lupa yang Presidennya mana, Wakil Presidennya mana?

Apa jangan-jangan karena itu, ya…. Presiden memilih wakilnya yang pendiam. Asli pendiam dan tak banyak bicara, ah, bukan tak banyak bicara, tapi tak mau bicara. Jadi cukup, tiap hari ngantor saja. Nanti kalau Presiden ke luar negeri atau sedang flu, menggantikan membuka acara peresmian ini itu, acara kenegaraan ini itu, dan perayaan hari anu.

Baca di koran Kompas dulu sih, katanya Wakil Presiden puasa bicara sama Pers. Tapi, masa puasa berbulan-bulan lamanya. Nanti kelu lidahnya. Ah, barangkali tak puasa. Tapi karena memang sedemikian patuhnya dengan perintah Presiden supanya jangan banyak bicara. Dan ‘jangan banyak bicara’ pun diartikan ‘nggak boleh bicara’.

Akhirnya memang tak pernah aku membaca komentarnya atas masalah bangsa yang jadi judul berita koran, kayak wakil presiden yang dulu itu yang selalu jadi buruan pers. Masalah sebegitu seliweran silih berganti, tak ada satu pun yang dikomeni wakil presidenku. Padahal dulu, untuk masalah gawat soal naiknya BBM, wakil presidennya yang mengumumkan. Lalu pas giliran BBM diturunkan Presidennya yang tampil.

Kemaren wong Jogya bercurhat ria ke kediaman wakil presiden di Jogya. Paling tidak berharap wakil presiden membela soal ‘daerah yang nggak akan diistimewakan’. Lha, salah satu kediamannya kan di Jogya. Tapi, boro-boro membela. Wakil Presiden yang punya rumah di jogya, ya, tetap diam saja. Ya, yang ngomong tetap Presidennya….

Saya sama Sultan nggak ada masalah apa-apa dibentur-benturkan sama ……’ begitu sebagian kutipan omongan Presiden. Dan omongan ini ujung-ujungnya menyalahkan siapa lagi kalau bukan media. Ya, ya, ya. Media selalu salah. Media selalu pandai ‘membentur-benturkan’. Itu makanya, Presiden tak pernah salah. Yang mengutip berita yang selalu bego….

Intinya begitu kira-kira."
Sumber : di sini


Gimana??
Ada komentar?

Minggu, 17 Oktober 2010

Sebuah Karya Anak Bangsa


Sejujurnya gw bingung mau mulai cerita dari mana. Soalnya semua bisa kita baca di sini dan gw yakin buat temen-temen sekalian yang udah pernah baca ini pasti berdecak kagum dan bangga menjadi bagian dari Indonesia.

Sejujurnya gw kagum dengan bangsa Indonesia.
Karena memiliki anak-anak terbaik yang ingin dan mampu memajukan bangsanya.
Padahal belum tentu apa yang anak-anak itu perjuangkan akan dinikmati kembali oleh pejuangnya.
Mungkin saja dua atau tiga generasi selanjutnya yang menuai hasil atas usaha anak-anak masa kini.

Tapi itulah yang membuat saya semakin bangga.

Sebuah Karya Anak Bangsa

yang membuat saya semakin cinta akan Tanah Air Indonesia.

ps : buka, baca, hayati, dan nikmati..