permisiiiii..

Foto saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
hanya manusia biasa yang tidak sempurna tapi selalu ingin sesuatu yang luar biasa meskipun sampai harus ke luar angkasa.
Tampilkan postingan dengan label sebagai renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sebagai renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Agustus 2015

Kembali Menang

Sudah jauh kakiku melangkah di bumi ini, pun penuh kepalaku diisi oleh banyak ide dan pertanyaan akan kehidupan yang ku jalani.
Tapi aku selalu saja punya alasan untuk tidak menuliskannya.

Malas.

Satu tahun lamanya aku tidak menulis apa-apa di blog ini. Rindu rasanya.
Tapi aku selalu saja punya alasan untuk tidak menuliskannya.

Malas.

Orang bijak pernah berkata, "seorang pemenang akan berusaha membuat tujuan dan cara-cara untuk menggapainya, sedangkan seorang pecundang akan berusaha membuat alasan dan cara-cara untuk melewatkannya."

Winners make goals. Losers make excuses.

Aku mau jadi pemenang...

Sudah hampir satu bulan lamanya Ramadhan berlalu, menyisakan hari-hari terakhir di bulan Syawal ini. Bulan yang disebut-sebut sebagai bulan kemenangan. Bulan aktualisasi sekaligus wahana pembuktian setelah diri kita ditempa di bulan Ramadhan. Juga bulan yang senantiasa dikaitkan dengan lahirnya jiwa-jiwa manusia yang kembali suci, selayaknya baru dilahirkan di dunia.

Kurasa seiring berakhirnya bulan Syawal ini bisa aku jadikan momentum untuk kembali.

Kembali mendefinisikan diriku. Siapakah aku? Pemenang kah? Atau Pecundang?

Aku mau jadi pemenang, bukan pecundang. Menjadi pribadi yang senantiasa berpikir matang dan bertindak dengan lantang namun tenang. Juga mampu menuangkan hasilnya ke dalam tulisan.
Dan ini janjiku.

Semoga Allah meneguhkan hati kita dan meluruskan niat kita untuk kembali.
Kembali berjuang menjadi Para Pemenang.
Amin Yaa Rabbal 'Alamin..

Rabu, 27 November 2013

Kita Muda, Bisa, dan Berbahaya

Halo, Kawan!!

Ya, Kawan. Lebih tepat kugunakan untuk merepresentasikan rekan-rekan kerjaku di Pemalang sekitar 9 bulan yang lalu. Terutama penghuni Mess Trans Quality berisikan anak-anak muda yang (mudah-mudahan) berbakat dan bersemangat, meskipun ada beberapa yang tidak bisa dibilang muda, tapi masih berjiwa muda. Hehehe.

Ya, 9 bulan adalah waktu yang cukup bagi seorang ibu mengandung anaknya hingga sang anak siap menghadapi kerasnya dunia persilatan. Begitu pula yang aku alami, 9 bulan ditempa dalam kandungan Proyek PDGT Pemalang dengan segala kelebihan dan kekurangannya, akhirnya tiba masaku untuk lahir ke dunia dan menghadapi berbagai tantangan yang lebih berwarna.

Ya, warna. Mereka telah memberikan titik-titik warna. Titik-titik yang kemudian kurangkai menjadi sebuah garis dan pola dalam mengisi kanvas hidupku.

Pepatah berkata, “pengalaman adalah guru yang paling berharga”, dan kurasakan itu. Pengalaman itu muncul dari sebuah sistem ekologi yang tersusun atas elemen biotik dan abiotik. Tanah, air, angin sepoi-sepoi, serta sinar mentari Pantai Utara Jawa merupakan elemen abiotik dalam pengalamanku di Pemalang. Sedangkan elemen abiotik-nya adalah mereka, ya, mereka. Makhluk-makhluk ajaib yang terdampar bersamaku dengan seragam dan bendera yang sama melebur jadi satu, hingga waktunya aku harus pergi dan menggapai impianku sendiri.

Aku memang egois. Kita memang egois.

Karena sesungguhnya masing-masing dari kita punya mimpi yang harus dan mampu dicapai oleh dan hanya oleh kita sendiri. Tidak dengan siapa-siapa.

Inilah hidup, Kawan!
Keras seperti batu. Tajam seperti pisau. Dan liar seperti kita.
Bukan rimba. Bukan.
Kita lebih liar dari rimba.
Karena kita muda, bisa, dan berbahaya.

Ingat, Kawan!
Kelak akan tiba masamu untuk lahir ke dunia. Dunia baru. Jauh berbeda dengan di dalam kandungan ibu, yang mau tidak mau harus kau hadapi itu.

Ini bukan masalah Sirandu, atau Pemandian Air Panas Guci itu. Ini masalah hidup. Hidupku atau hidupmu. Meskipun tak ada yang tahu apakah kelak hidupku masih akan bertemu lagi dengan hidupmu.

Hiduplah sehidup-hidupnya, Kawan!!

Karena kita muda, bisa, dan berbahaya. 



Tulisan ini kupersembahkan untukmu, Kawanku di Pemalang

Bermimpi Memimpin dengan Hati

Pagi yang indah di Kota Bandung membuatku berpikir ingin jadi apa aku nanti.
Lalu ku buka youtube dari laptop-ku, siapa tau bisa dapat inspirasi.

Ah! Ada cuplikan wawancara Jokowi di Metro TV.
Saat itu masih sebagai Walikota Solo, belum jadi Gubernur DKI, seperti saat ini.

Ini yang kuambil dari video tadi, berupa intisari, agar mudah dipahami.

Suatu kali Bung Karno mencari
Siapa orang paling bernyali
Tersebutlah Bang Ali
Sosok Gubernur Jakarta yang bertangan besi dengan gebrakan di sana-sini

Jauh kemudian di lain penggalan jaman
Jokowi muncul sebagai pemimpin Surakarta yang menyejukkan

Resep mereka sederhana
Ngemong
Yakni mau menaungi kawula
Juga mengadabkan pamongpraja
Mereka membuka mata terhadap kebutuhan warga
Serta membuka hati tanpa alergi pada demonstrasi

Jokowi bukan Bang Ali
Tapi sama bernyali
Menjalankan kebijakan yang mumpuni
Sama berani
Untuk menolak aji mumpung sejawat partai sendiri
Apalagi membangun dinasti

Prestasi Bang Ali dan Jokowi bukan sensasi
Bukan pula berita koran,
tentang gubernur dan bupati yang jadi pesakitan di pengadilan
Mereka cuma mengingatkan Anda,
pejabat terhormat dan politisi terpuji.
Bagaimana caranya mengabdi.


Aku bukan Jokowi, apalagi Bang Ali.
Aku hanya bocah masa kini yang penuh mimpi.

Ya! AKU INGIN MENJADI PEMIMPIN!!
Paling tidak, pemimpin bagi diriku sendiri. Independensi.
Atau pemimpin bagi keluargaku nanti.
Syukur-syukur bisa jadi pemimpin perusahaan terkemuka negeri ini.

Apapun itu,
Aku ingin jadi pemimpin yang selalu bisa mengayomi.
Mungkin tak sehebat Jokowi atau Bang Ali.
Tapi cukup dengan hati.


Terinspirasi dari Mata Najwa Edisi "Nyali Perintis"
Terima kasih. Pagi ini terasa indah sekali.

Senin, 28 Oktober 2013

Sebuah Pengingat, bahwa di Zamanku, Aku Pernah Resah dengan Bangsa Ini

Aku adalah pemuda di zamanku.
Aku adalah pemuda yang akan menentukan nasibku, juga nasib bangsaku.

BUKAN KAU..!!

Apalagi dia, atau mereka.

Kami adalah pemuda di zaman ini.
Kami adalah pemuda yang akan menentukan nasib kami, juga nasib bangsa ini.

BUKAN DIA..!!!
BUKAN MEREKA..!!!

Tapi KAMI, PEMUDA PEMUDI BANGSA INI.



Pemalang, 28 Oktober 2013

Memperingati Hari Sumpah Pemuda, 84 Tahun yang Lalu.

Senin, 13 Februari 2012

Sah-sah Saja, Asalkan Tidak Sampai Fitnah

Peraturan :
Pada tulisan kali ini, jika kalian menemukan kata sah-sah saja, kalian boleh melanjutkan membaca kemudian hanya menebak-nebak akhir dari tulisan ini. Namun jika kalian sudah menemukan kata tidak sah, kalian harus berhenti membaca. Setuju?

Manusia secara alamiah memiliki rasa ingin tahu yang besar serta mampu berpikir hal-hal yang bahkan tidak mampu dilihatnya secara kasat mata. Itulah gunanya akal pikiran kita. Dampak dari itu semua, akhirnya manusia hanya mampu memikirkan hal-hal yang memang tidak mampu dilihatnya. Terlebih hal-hal yang amat diinginkan untuk diketahui.
Itu sah-sah saja.
Menjadi bermasalah adalah saat manusia sudah tidak mau lagi berpikir tentang apa yang tidak mampu dilihatnya dan kemudian manusia mengambil jalan pintas untuk itu. Berasumsi.
Itu sah-sah saja.
Menjadi semakin bermasalah adalah ketika asumsi yang dipakai adalah asumsi yang dasar pemikiriannya lemah, atau bahkan tidak berdasar. Ya, berandai.
Itu juga sah-sah saja.
Bentuk pengandaian ini akan menjadi masalah jika apa yang diandaikan oleh satu manusia salah diinterpretasikan oleh manusia yang lainnya.
Itu masih sah-sah saja.
Tetapi jika salah interpretasi ini menyebabkan masalah lain yang jauh lebih besar, ini baru tidak bisa dibilang sah-sah saja. Inilah buah pikiran yang berujung pada terjadinya masalah. Untuk kasus ini gw menyebutnya dengan nama prasangka buruk. Su'udzon bahasa Arabnya.
Itu jelas tidak sah.

------Ini bukan bagian yang boleh kalian baca.
Kalau ini dilanjutkan, prasangka buruk akan berubah menjadi hal yang lebih buruk. 
Fitnah. 

Selasa, 22 November 2011

Kebenaran vs. Logika

Menarik!
Itulah kata yang bisa gw ucapkan saat diskusi mengenai sejarah kebudayaan Islam itu berjalan. Bukan hanya karena gw pribadi adalah seorang muslim, tapi juga karena gw merasa ada sebagian diri gw yang haus akan kebenaran. Jadi gw mohon maaf jika di sini gw ternyata tidak akan banyak membual tentang sejarah. Sama sekali.

Yah, kebenaran memang tidak selalu bisa dibuktikan dengan logika. Kebenaran adalah sesuatu hal yang harus diyakini, ditaati, dan dipatuhi, meskipun kadang sesuatu yang benar itu tidak sejalan dengan akal pikiran kita saat ini.

Sebenarnya diskusi tadi memang hanya membahas mengenai sejarah (gw ingatkan kembali). Namun lucu rasanya jika kita tidak meyakini apa yang benar-benar terjadi kala itu sehingga kita bisa menarik hikmah kemudian menerapkannya dalam kehidupan hari ini dan masa yang akan datang.

Teringat perkataan seorang teman, agak aneh rasanya jika ada orang yang mengetahui dan memahami, atau mungkin meyakini bahwa ada sesuatu yang benar namun tidak pernah (atau jarang) dilakukannya. Sebagai contoh, agak aneh rasanya ketika kita diperingatkan bahwa ada bom di dalam sebuah ruangan tempat kita berdiri namun kita tetap tidak melarikan diri dan menganggap tidak terjadi apa-apa.

Menurut gw pribadi, kalau kita yakin bahwa bom tersebut akan meledak dalam waktu dekat ini, seharusnya kita segera berlari dan menyelamatkan diri, karena jika bom itu meledak dan kita belum sempat melarikan diri maka kita pun akan ikut terbakar dan mati. Hal ini logis dan rupanya hal ini sudah dapat dibuktikan dengan fisik dan sudah sangat menjadi common sense diantara kita sesama manusia.

Lalu bagaimana dengan perintah agama yang belum pernah ada manusia di bumi ini yang pernah membuktikannya. Yang gw bicarakan di sini bukan hanya perkara ancaman hukuman ataupun janji kenikmatan dari Tuhan. Tapi lebih dari itu, konsekuensi yang menurut gw (lagi-lagi) amat logis.

Mari sejenak kita belajar kembali matematika dasar.
Dalam ilmu logika matematika, terdapat istilah implikasi yang biasanya dikenal dengan premis jika-maka dan disimbolkan dengan p -> q, artinya jika p, maka q. Dimana p adalah hipotesa dan q adalah konklusi. Sedangkan kontraposisi dari implikasi p -> q adalah ~q -> ~p, artinya jika tidak q, maka tidak akan p.

"Jika engkau mematuhi perintah Tuhanmu, maka surga balasannya."

Begitulah bunyi premis perintah agama yang biasa kita dengar dan ketika premis di atas dibuat kontraposisinya kira-kira beginilah bunyinya.

"Jika bukan surga balasannya, maka engkau tidak mematuhi perintah Tuhanmu."
atau dalam bahasa yang lebih ekstrim dan jelas.
"Jika dibalas dengan neraka, artinya engkau tidak mematuhi peruntah-Nya."

Apakah yang demikian itu tidak logis?
Atau memang kita hanya membutuhkan pembuktian fisik?
Lalu adakah salah satu dari kita yang mampu membuktikan itu?
Atau kita hanya menunggu hal itu mampu menjadi common sense dengan sendirinya?

Gw rasa setiap orang beragama harusnya mampu menjawab setiap pertanyaan di atas.
Lain halnya jika definisi kata beragama yang gw miliki berbeda dengan orang lain. Gw rasa tidak demikian.

Rabu, 17 Agustus 2011

tujuh belas


Tujuh belas Ramadhan.
Pertama kali Al-Qur'an diturunkan ke bumi melalui malaikat Jibril.
Hingga hari itu disebut sebagai hari yang istimewa; Nuzulul Qur'an.

Tujuh belas rakaat.
Adalah jumlah rakaat shalat wajib dalam satu hari satu malam.
Subuh: dua; Dzuhur: empat; Ashar: empat; Maghrib: tiga; Isya: empat.

Tujuh belas tahun.
Pertama kali gw difoto dan diminta tanda tangan untuk KTP.
Pertama kali juga gw berhasil memperoleh SIM A dan SIM C sekaligus.
Bahkan gw diberi kesempatan untuk menentukan nasib bangsa ini dengan memilih calon presiden republik ini.

Kini gw tahu kenapa hari kemerdekaan Indonesia jatuh pada tanggal tujuh belas.

Dirgahayu Indonesiaku!

Sabtu, 06 Agustus 2011

Tidak Mati = Abadi ?

Selama tiga tahun terakhir ini gw mencoba menarik sebuah hipotesis atas apa yang telah dan sedang terjadi di tempat gw bernaung saat ini, ya, kampus Institut Teknologi Bandung. 
Bahwa kegiatan-kegiatan yang berbau, berasa, serta berwarna "kemahasiswaan" selalu ada di sini, ya, di kampus Institut Teknologi Bandung. 
Ya, di kampus Institut Teknologi Bandung terdapat jiwa-jiwa mahasiswa yang tidak pernah mati, bahkan untuk tidur saja pun diper-sulit.

Apakah jiwa-jiwa mahasiswa yang tidak pernah mati adalah jiwa-jiwa yang abadi?

Apakah bau, rasa, serta warna ini adalah bau, rasa, serta warna yang abadi?

Dan apakah sesuatu yang tidak pernah mati adalah sesuatu yang abadi?



Terinspirasi oleh sebuah perhelatan besar yang baru saja berakhir,
PROKM-ITB 2011

Jumat, 15 Juli 2011

Satu Kosong; Sebuah Realita

Di suatu siang yang panas di bilangan Jakarta Barat, gw sedang duduk di belakang setir mobil sambil mengendarainya menuju arah tol Tangerang. Di samping kanan gw, Icang, partner Kerja Praktek gw di Greenbay Pluit Project, tengah duduk sembari jemarinya bermain dengan handphone barunya.

Tiba-tiba mobil yang sedang gw kendarai diminta untuk menepi oleh seorang bapak aparat penegak hukum sekaligus pelayan masyarakat. Berikut kutipan percakapannya.

Sambil membuka kaca, “selamat siang pak. Ada apa ya?”

“Siang, Mas. Mas bukan orang sini ya?”

“Iya Pak, kami dari Bandung. Tapi mau ke arah Tangerang. Memangnya ada apa ya, Pak?”

“Begini Mas, tadi Mas pindah jalur dari kiri ke kanan sehingga memotong laju kendaraan yang datang dari sebelah kanan. Itu tidak diperbolehkan Mas kalau di sini.”

“Oh, lalu kalau saya mau masuk tol Tangerang harus lewat mana ya pak? Soalnya saya tadi lihat papan penunjuk jalan kalau arah tol Tangerang itu lewat sini. Jadi kami yang saat itu sedang ada di jalur kiri harus pindah jalur ke kanan agar bisa masuk tol, Pak. Kalau nggak seperti itu bagaimana kami bisa menuju Tangerang? Lagipula kami tidak melanggar marka jalan kan, Pak?”

“Iya, Mas memang tidak melanggar marka jalan, tetapi Mas seharusnya tidak berpindah jalur karena untuk bisa menuju tol Tangerang nggak hanya lewat sini. Di depan sana (sambil menunjuk) akan ada lampu merah, kemudian Mas bisa belok kanan untuk masuk tol Tangerang.”

Wah, kalau gini ceritanya pasti semua orang yang bukan orang sini bakalan ngelanggar dong..
Bisa aja nih si Bapak.. (Ini suara hati gw saat itu)

“Jadi gimana nih, Mas?”

Gimana apanya, Pak?”

“Mas mau saya tilang?”

Ini si Bapak ngelawak apa serius sih? Lucu juga nih si Bapak. (Suara hati gw berpikir kalau ini natural)

“Lah, kalau saya memang salah menurut Bapak, silahkan tilang saya, pak!”

“Kalau ditilang mas harus datang ke pengadilannya loh. Mas bisa datang tanggal 22 Juli nanti?”

“Pengadilannya dimana ya, Pak?”

“Pengadilan Jakarta Barat sini. Dekat kan? Gimana?”

“Oke saya bisa kok, Pak. Tanggal 22 Juli kan, Pak?”

Kemudian si Bapak tampak sedang mengontak rekannya dengan alat handy talkie. “Tanggal 15 Juli bisa, Mas?”

“Wah, kenapa berubah, Pak? Tadi katanya tanggal 22 Juli..”

“Ternyata pengadilan baru bisa diadakan setelah seminggu dari waktu penilangan. Tapi jika terlalu lama juga kemungkinan pengadilannya juga nggak mau ngurusin. Nah, kebetulan seminggu dari hari ini adalah tanggal 15 Juli. ”

Aduh, tanggal 15 Juli kan ada wisuda HMS. Gimana yah? (Suara hati gw pun muncul lagi. Kali ini belum mulai muncul rasa curiga)

“Wah, saya nggak bisa kayaknya, Pak kalau tanggal 15 Juli. Saya ada wisuda. Saya kan mahasiswa, Pak. Gimana kalau tetap tanggal 22 Juli aja, Pak?”

“Jadi sebenarnya Mas ini mau ditilang atau nggak sih? Kok diminta untuk sidang nggak mau.”

“Kalau memang menururt Bapak saya salah, ya saya harus mau, Pak. Tapi saya bisanya tanggal 22 itu.”

“Wah, nggak bisa, Mas. Ini prosedurnya. Kalau memang nggak bisa datang, bisa titip kok.”

Ini udah mulai nggak bener nih.. (Suara hati gw mulai merasakan kejanggalan)

“Titip apa ya, Pak?”

“Ya titip denda, Mas. Jadi Masnya nggak perlu datang waktu sidang tanggal 15 Juli nanti tapi dendanya bisa tetap dibayar. (sambil menunjukkan ke gw surat tilang yang terdapat nominal denda yang cukup besar. Berkisar lima puluh ribu sampai satu juta rupiah)”

Tuh kan nggak bener.. (Suara hati gw emang yahud!)

“Aduh, Pak. Tanggal 22 aja yah, Pak. Saya betul-betul nggak bisa kalau tanggal 15. Tapi saya merasa jika saya memang salah saya harus disidang, Pak.”

Nggak bisa nih, Mas. Kalau mas mau disidang ya tanggal 15 Juli. Selain itu tidak bisa. Gimana, Mas? Saya nggak bisa lama-lama nih karena saya masih harus bertugas lagi. Nggak enak juga dilihat orang kalau lama-lama.”

Hah? Nggak enak? Kok negakkin peraturan malah nggak enak?. Udah nggak bener nih si Bapak. (Suara hati gw makin yakin kalau kondisi si Bapak saat ini sedang di atas angin lantaran gw seakan sedang berada dalam tekanannya.)

Gimana, Mas? Mau tetap sidang tanggal 15 atau titip sidang saja? Saya sudah tidak ada waktu lagi ini.”

“Mmm. Oke, Pak. Saya usahakan bisa datang tanggal 15 Juli.”

“Jangan “diusahakan”, harus dong kalau gitu! Nanti kalau surat ini sudah masuk pengadilan tapi Masnya nggak datang kan repot di saya. Kecuali Masnya sudah nitip sidang, lain ceritanya.”

“Oke, saya bisa datang, Pak.” (Ekspresi gw gw buat seakan-akan gw yakin secara tiba-tiba)

Bener nih, Mas? Kalau saya sudah menulis di surat tilang ini, Masnya harus benar-benar datang.” (Ekspresi si Bapak seketika berubah pucat)

“Bener, Pak. Saya rela mengorbankan wisuda saya karena kesalahan saya ini. Yah, jika memang saya benar-benar salah.”

Hahahahahaha. Dapet nih! (Suara hati gw mulai menunjukkan kemenangan.)

“Ah, Masnya keliatan nggak yakin nih buat datang sidang. Nanti percuma saya tulis disini ternyata Masnya nggak datang. Rugi di saya kalau begitu. Ya sudah, Masnya nggak usah saya tilang saja. Lain kali jangan diulang lagi ya!”

Hahahahahahahahaha. Ngakak gw! (Dengan suara hati tentunya.)

“Oh, terimakasih, Pak. Maafkan kami jika memang kami salah. Tenang aja, Pak, kami berusaha untuk tetap taat sama aturan kok. Selamat siang, Pak. Selamat melanjutkan tugas kembali.”

Kemudian gw menutup kaca seraya menginjak pedal gas lalu berteriak bersama-sama dengan Icang,

“Satu kosong booooyyyy..!!!!”

*Sayang seribu sayang si Icang nggak sempat merekam percakapan ini. Tapi gw jamin ini 100% nyata. Kalau nggak percaya, silahkan tanya si Bapak Pelayan Masyarakat itu atau mungkin teman-temannya.

Minggu, 29 Mei 2011

Frustrasi, bukan Frustasi!

Awalnya cuma gara-gara gw ngerjain suatu teka-teki silang di koran Kompas pagi ini, tapi malah jadi kepikiran dan membuat gw pengen nulis di sini.
mendatar :
28. Kecewa karena gagal meraih suatu cita-cita; 9 kotak.
Tadinya gw berpikir jawabannya adalah "frustasi". Namun ternyata kata "frustasi" hanyalah terdiri dari 8 huruf sedangkan yang dicari harus terdiri dari 9 kotak. Bahkan gw sempat berpikir kalau soalnya yang salah atau kotaknya salah.
Tapi kemudian gw terinspirasi untuk menggunakan sebuah search engine paling terkemuka di dunia (saat ini) yaitu Google. Inilah hasil pencariannya :


Ternyata memang ada kata "frustrasi" dan bukanlah "frustasi". Bahasa "frustasi" hanyalah bahasa yang seringkali kita gunakan namun sebenarnya bukanlah bahasa baku (meskipun Google menganggapnya benar). Sedangkan "frustrasi"-lah yang sebenarnya bahasa Indonesia yang baku dan ada maknanya dalam KBBI.
Dalam KBBI, "frustrasi" bermakna: [n] rasa kecewa akibat kegagalan di dl mengerjakan sesuatu atau akibat tidak berhasil dl mencapai suatu cita-cita: -- dapat timbul apabila jurang antara harapan dan hasil yg diperoleh tidak sesuai.
Dengan demikian, cocok sudah kata ini dengan pertanyaan pada soal teka-teki silang Kompas sehingga gw bisa melanjutkan pengerjaan TTS dengan riang gembira (nggak juga sih..).

FRUSTRASI
Menurut Drs. H. Ahmad Fauzi (juga menurut Google) dalam bukunya yang berjudul Psikologi Umum, ternyata ada tiga jenis frustrasi, yakni:
1. Frustrasi Lingkungan
---Frustrasi yang disebabkan oleh halangan /rintangan yang terdapat dalam lingkungan (faktor eksternal).
2. Frustrasi Pribadi
---Frutrasi yang tumbuh dari ketidakpuasan seseorang dalam mencapai tujuan dengan perkataan lain frustrasi pribadi ini terjadi karena adanya perbedaan antara tingkatan aspirasi dengan tingkatan kemampuannya.
3. Frustrasi Konflik
---Frustrasi yang disebabkan oleh konflik dari berbagai motif dalam diri seseorang. Dengan adanya motif saling bertentangan, maka pemuasan dari salah satu motif akan meyebabkan frustrasi bagi motif yang lain.

Sebenarnya gw juga agak nggak ngeh soal psikologi, tapi di sini paling tidak gw nggak sia-sia melakukan suatu pencarian terhadap satu kata dalam bahasa Indonesia yang (baru) gw tahu hari ini.

Intinya. 
Jadi buat teman-teman semua, gw cuma bisa ngasih tau kalau bahasa kita itu masih sangat besar peluang untuk kita explore lebih dalam lagi dan cari tahu lebih banyak lagi. Jangan cuma menjadi user terhadap bahasa kita sendiri, tapi jadilah owner sehingga kita mampu berbuat lebih banyak untuk Ibu Pertiwi.

Sabtu, 07 Mei 2011

Hati-Hati Cita-Cita

Beruntung gw sempat datang di acara kuliah umum Kuya OG yang telah diadakan oleh Departemen Keprofesian Badan Pengurus HMS-ITB, Sabtu, 30 April lalu.

Kuya OG?? Apakah itu?

Adalah sebuah organisasi alumni teknik sipil dan teknik kelautan ITB yang kini berkiprah di dunia industri oil and gas (setelah ini disebut OG). Lalu kenapa harus ada kuliah umum mengenai hal ini? Karena bagi kami, mahasiswa teknik sipil dan teknik kelautan ITB khususnya, belum paham soal prospek pekerjaan di dunia OG yang padahal sudah banyak alumni yang berkiprah di sana.

Oke, cukup untuk introduction nya.

Seorang alumni yang saat itu melakukan pemaparan tentang dunia OG mengatakan sesuatu mengenai cita-cita. Kata beliau, "Hati-hati dengan cita-cita. Kalau kamu bercita-cita terlalu rendah, bisa-bisa tercapai cita-citamu."

Seketika gw berpikir. Lalu kemudian merenungkan kembali kata-katanya. Wajar saja orang tua dahulu selalu bilang "gantungkan cita-citamu setinggi langit". Karena jika kita hanya menggantungkan cita-cita setinggi atap, suatu saat ketika kita mampu membuat tangga kita pasti bisa menggapainya. Tapi lain halnya jika kita memiliki cita-cita setinggi langit. Kita harus bisa membuat pesawat dulu (atau bahkan roket) agar kita bisa mencapainya.

Analogi itu berlaku kepada dua orang yang jika salah satunya bercita-cita ingin lulus tepat waktu dengan IPK tinggi dan yang lainnya bercita-cita hanya sekedar lulus saja. Terlihat kan perbedaannya??

Hati-hati dengan cita-citamu. Karena cita-cita bisa tercapai (dan bisa saja kita menyesal karena tercapai).

Selasa, 08 Maret 2011

sedikit kutipan

Dari Workshop Jurnalistik HMS-ITB 2011 yang baru saja diadakan oleh Depkominfo BP HMS-ITB

melawan arus artinya menuju ke arah hulu dan menuju ke arah hulu artinya berusaha mencapai mata air.
Maka orang yang mampu menemukan mata air adalah orang yang melawan arus.
--Acep--

Jadi masihkah kita mau mengikuti arus?
Atau sepenting apakah kita akhirnya harus melawan arus?

Kamis, 16 Desember 2010

Carpe Diem; Seize the Day;

Adalah suatu frase dalam bahasa latin yang artinya "Petiklah Hari".
Sedangkan dalam kalimat aslinya berbunyi :

"carpe diem, quam minimum credula postero"
artinya : "Petiklah hari dan percayalah sesedikit mungkin akan hari esok."

Maksud kata-kata ini adalah orang dianjurkan untuk hidup memanfaatkan hari ini secara lebih optimal tidak menunda sesuatu untuk hari esok. Dengan demikian kita lebih dapat memanfaatkan waktu yang ada secara optimal.

Kata-kata tadi merupakan sebuah kutipan dari film yang sudah lama aku tonton. Sekitar 7 tahun yang lalu, dalam pelajaran PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan), aku dipertontonkan film Dead Poets Society. Sebuah film (menurutku luar biasa) yang disutradarai oleh Peter Weir dan diperankan oleh aktor kawakan Robin Williams. Bercerita tentang seorang guru bernama John Keating yang menginspirasikan siswa-siswanya untuk mencintai karya sastra dan menghargai hidup.

Latar film ini adalah sebuah sekolah berasrama homo-gender. Yak, homo-gender! Aku juga merasa aneh dengan istilah ini. Tapi tak apa lah.. toh ini istilah yang kubuat sendiri. Jadi kalian terima saja ya..hehe.

Maksud homo-gender di sini adalah siswa yang diterima dan mampu belajar di sekolah ini hanyalah siswa dari satu jenis kelamin yang sama, yang dalam hal ini adalah laki-laki. Jadi bisa kita bayangkan bahwa dari latarnya saja sudah menimbulkan konflik karena sekolah seperti itu tidaklah seperti sekolah pada umumnya dan skenarionya pun dibuat demikian.

John Keating hadir sebagai seorang guru baru di sekolah Welton Academy dengan membawa sebuah napas baru dalam dunia pembelajaran. Bagaimana tidak, berikut sebuah kutipan dari adegan film ini :

[Keating stands on his desk]
John Keating: Why do I stand up here? Anybody?
Dalton: To feel taller!
John Keating: No!
[Dings a bell with his foot]
John Keating: Thank you for playing Mr. Dalton. I stand upon my desk to remind myself that we must constantly look at things in a different way.

Dan ketika itu, akademi ini sangat menjunjung tinggi tradisi kaku yang sudah dilakukan secara turun-temurun sejak dulu sehingga wajar saja saat Keating mengajar dengan cara yang berbeda dia langsung dianggap buruk (meskipun akhirnya menjadi baik) oleh pihak sekolah yang notabene adalah pelaku tradisi dan menjaganya hingga guru baru ini datang.

Jadi intinya,
kapan kita (mau) berubah?
kapan kita (mau) berhasil?
kapan kita (mau) bermanfaat untuk orang lain?

Jawabannya : HARI INI.
*setidaknya kita (mau)

Carpe Diem; Seize the Day; 
Raihlah Harimu!

Rabu, 08 Desember 2010

Sepakbola Indonesia dan HMS

Begitulah judul tulisanku kali ini. Lalu ada apa dengan sepakbola Indonesia dan HMS?
Apa keterkaitannya?
Mari kita temukan disini.

Awalnya aku hanya sekedar iseng-iseng browsing di situs goal.com. Di sana ternyata banyak diliput (bahkan judulnya LIPUTAN KHUSUS) mengenai sepakbola Indonesia yang baru-baru ini sangat fenomenal dengan rekornya di Kejuaraan Piala AFF 2010 yang selalu mendulang poin penuh di tiga pertandingan awal.

Indonesia 5 - 1 Malaysia
Indonesia 6 - 0 Laos
Indonesia 2 - 1 Thailand

Tapi di sampin itu semua, hal yang paling menyita perhatianku adalah sebuah artikel di goal.com menyebutkan bahwa dunia sepakbola Italia dan Inggris mendukung revolusi di tubuh PSSI. 
note : bagi yang belum tau --> Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia ^-^

Satu statement dari Direktur Goal.com Italia, Sergio Stanco, yang amat memikat hatiku.
Begini bunyinya :

"Cara-cara terbaik adalah membuka kemungkinan untuk membangun organisasi baru yang sungguh-sungguh, tapi hal itu saya akui tidak akan mudah."

"Semangat Indonesia harus dimulai dari fans, dan bukan dari organisasi. Membangun stadion yang nyaman dan memberikan kesempatan buat suporter 'bernafas' sepakbola. Itulah cara terbaik. Kami mempunyai masalah yang sama di Italia,"


Lalu apa hubungannya dengan HMS??????

Hubungannya adalah..
Kami juga mempunyai masalah yang sama.

Bagaimana menurut anda?
 

Sabtu, 04 Desember 2010

Seseorang Bicara, Wakil Presiden Tak Pernah Bicara

Sabtu sore, H-2 UAS Semester Ganjil T.A. 2010/2011.
Awalnya iseng, tapi ketagihan.
Inilah yang berhasil ku temukan.


"Aku punya Wakil Presiden, tapi di Negeriku dia hanya pajangan. Ditaruh di foto sebelah kanan samping burung garuda. Dia tak pernah bicara. Sedemikian pendiamnya sampai-sampai setiap momen dan peristiwa negeri tak pernah ditanggapinya. Berbeda dengan Wakil Presiden yang dulu, yang lebih lincah, lebih banyak bicara, lebih banyak bersuara, lebih banyak bertindak. Sampai-sampai Rakyat lupa yang Presidennya mana, Wakil Presidennya mana?

Apa jangan-jangan karena itu, ya…. Presiden memilih wakilnya yang pendiam. Asli pendiam dan tak banyak bicara, ah, bukan tak banyak bicara, tapi tak mau bicara. Jadi cukup, tiap hari ngantor saja. Nanti kalau Presiden ke luar negeri atau sedang flu, menggantikan membuka acara peresmian ini itu, acara kenegaraan ini itu, dan perayaan hari anu.

Baca di koran Kompas dulu sih, katanya Wakil Presiden puasa bicara sama Pers. Tapi, masa puasa berbulan-bulan lamanya. Nanti kelu lidahnya. Ah, barangkali tak puasa. Tapi karena memang sedemikian patuhnya dengan perintah Presiden supanya jangan banyak bicara. Dan ‘jangan banyak bicara’ pun diartikan ‘nggak boleh bicara’.

Akhirnya memang tak pernah aku membaca komentarnya atas masalah bangsa yang jadi judul berita koran, kayak wakil presiden yang dulu itu yang selalu jadi buruan pers. Masalah sebegitu seliweran silih berganti, tak ada satu pun yang dikomeni wakil presidenku. Padahal dulu, untuk masalah gawat soal naiknya BBM, wakil presidennya yang mengumumkan. Lalu pas giliran BBM diturunkan Presidennya yang tampil.

Kemaren wong Jogya bercurhat ria ke kediaman wakil presiden di Jogya. Paling tidak berharap wakil presiden membela soal ‘daerah yang nggak akan diistimewakan’. Lha, salah satu kediamannya kan di Jogya. Tapi, boro-boro membela. Wakil Presiden yang punya rumah di jogya, ya, tetap diam saja. Ya, yang ngomong tetap Presidennya….

Saya sama Sultan nggak ada masalah apa-apa dibentur-benturkan sama ……’ begitu sebagian kutipan omongan Presiden. Dan omongan ini ujung-ujungnya menyalahkan siapa lagi kalau bukan media. Ya, ya, ya. Media selalu salah. Media selalu pandai ‘membentur-benturkan’. Itu makanya, Presiden tak pernah salah. Yang mengutip berita yang selalu bego….

Intinya begitu kira-kira."
Sumber : di sini


Gimana??
Ada komentar?

Minggu, 07 November 2010

Gunakan Hati, bukan Nafsu

Jawaban itu lah yang aku dapatkan saat temanku bertanya pada mentor-ku sore itu. Kurang lebih begini pertanyaannya,

"Kak, kalau kita dihadapkan kepada suatu pilihan, bagaimana sebaiknya sikap kita dalam memilih? Apa saja yang harus dipertimbangkan??"

Lalu mentor-ku bicara,

"Di antara teman2 sekalian ada yang mau jawab terlebih dahulu? Alif mungkin?"

Seketika aku kaget, tapi tak lama kucoba menjawab pertanyaan itu,

"Mmm, kalo menurut saya pilihlah sesuai hati kita. Saya yakin dari dalam hati nurani kita selalu tersimpan cahaya kebenaran. Maka, selama kita yakin atas kebesaran Tuhan, percayakan saja kepada suara hati kita masing2.. Karena Tuhan tau apa yg sebenarnya kita butuhkan."

Itu jawabanku. Asal-asalan memang.

Lalu kutanya kepada kakan mentor-ku,

"Kalau menurut kakak gimana?"

Beliau menjawab,

"Saya setuju dengan jawaban Alif, tetapi kita harus tau sebenarnya suara yang kita ikuti itu benar2 suara hati nurani kita atau nafsu kita??"

Seketika aku kaget. Tak mampu bicara sepatah kata pun.

"Kadang hati kita terlalu lemah untuk mengatakan kebenaran. Mengapa? Karena perbuatan-perbuatan dosa yang pernah kita lakukan. Hati ibarat cermin. Dia akan memberikan gambaran diri kita sejujur-jujurnya. Ketika kita tampak rapi dan bersih, hati menunjukkannya. Ketika kita lusuh dan kotor, hati pula yang menunjukkannya. Nah, jika kita berbuat dosa, hati akan terkotori sedikit demi sedikit, sesuai dosa yang telah kita lakukan. Semakin banyak dosa yang kita lakukan, semakin pekatlah kotoran yang menempel pada hati kita dan akhirnya kita semakin sulit melihat kebenaran yang sesungguhnya."

"Jika sudah demikian, apakah kita masih yakin yang kalian ikuti itu adalah benar2 suara hati nurani kalian?"

"Apakah hati kita masih cukup bersih sehingga masih mampu memberikan pantulan cahaya kebenaran?"

Kami (aku dan temanku) diam. Tak bisa menjawab. Lalu Beliau menambahkan,

"Satu-satunya jalan ialah kembali kepada-Nya. Karena Dia lah yang Maha Benar." 

Bagaimana dengan kalian??