permisiiiii..

Foto Saya
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
hanya manusia biasa yang tidak sempurna tapi selalu ingin sesuatu yang luar biasa meskipun sampai harus ke luar angkasa.

Senin, 13 Februari 2012

Sah-sah Saja, Asalkan Tidak Sampai Fitnah

Peraturan :
Pada tulisan kali ini, jika kalian menemukan kata sah-sah saja, kalian boleh melanjutkan membaca kemudian hanya menebak-nebak akhir dari tulisan ini. Namun jika kalian sudah menemukan kata tidak sah, kalian harus berhenti membaca. Setuju?

Manusia secara alamiah memiliki rasa ingin tahu yang besar serta mampu berpikir hal-hal yang bahkan tidak mampu dilihatnya secara kasat mata. Itulah gunanya akal pikiran kita. Dampak dari itu semua, akhirnya manusia hanya mampu memikirkan hal-hal yang memang tidak mampu dilihatnya. Terlebih hal-hal yang amat diinginkan untuk diketahui.
Itu sah-sah saja.
Menjadi bermasalah adalah saat manusia sudah tidak mau lagi berpikir tentang apa yang tidak mampu dilihatnya dan kemudian manusia mengambil jalan pintas untuk itu. Berasumsi.
Itu sah-sah saja.
Menjadi semakin bermasalah adalah ketika asumsi yang dipakai adalah asumsi yang dasar pemikiriannya lemah, atau bahkan tidak berdasar. Ya, berandai.
Itu juga sah-sah saja.
Bentuk pengandaian ini akan menjadi masalah jika apa yang diandaikan oleh satu manusia salah diinterpretasikan oleh manusia yang lainnya.
Itu masih sah-sah saja.
Tetapi jika salah interpretasi ini menyebabkan masalah lain yang jauh lebih besar, ini baru tidak bisa dibilang sah-sah saja. Inilah buah pikiran yang berujung pada terjadinya masalah. Untuk kasus ini gw menyebutnya dengan nama prasangka buruk. Su'udzon bahasa Arabnya.
Itu jelas tidak sah.

------Ini bukan bagian yang boleh kalian baca.
Kalau ini dilanjutkan, prasangka buruk akan berubah menjadi hal yang lebih buruk. 
Fitnah. 

Selasa, 22 November 2011

Kebenaran vs. Logika

Menarik!
Itulah kata yang bisa gw ucapkan saat diskusi mengenai sejarah kebudayaan Islam itu berjalan. Bukan hanya karena gw pribadi adalah seorang muslim, tapi juga karena gw merasa ada sebagian diri gw yang haus akan kebenaran. Jadi gw mohon maaf jika di sini gw ternyata tidak akan banyak membual tentang sejarah. Sama sekali.

Yah, kebenaran memang tidak selalu bisa dibuktikan dengan logika. Kebenaran adalah sesuatu hal yang harus diyakini, ditaati, dan dipatuhi, meskipun kadang sesuatu yang benar itu tidak sejalan dengan akal pikiran kita saat ini.

Sebenarnya diskusi tadi memang hanya membahas mengenai sejarah (gw ingatkan kembali). Namun lucu rasanya jika kita tidak meyakini apa yang benar-benar terjadi kala itu sehingga kita bisa menarik hikmah kemudian menerapkannya dalam kehidupan hari ini dan masa yang akan datang.

Teringat perkataan seorang teman, agak aneh rasanya jika ada orang yang mengetahui dan memahami, atau mungkin meyakini bahwa ada sesuatu yang benar namun tidak pernah (atau jarang) dilakukannya. Sebagai contoh, agak aneh rasanya ketika kita diperingatkan bahwa ada bom di dalam sebuah ruangan tempat kita berdiri namun kita tetap tidak melarikan diri dan menganggap tidak terjadi apa-apa.

Menurut gw pribadi, kalau kita yakin bahwa bom tersebut akan meledak dalam waktu dekat ini, seharusnya kita segera berlari dan menyelamatkan diri, karena jika bom itu meledak dan kita belum sempat melarikan diri maka kita pun akan ikut terbakar dan mati. Hal ini logis dan rupanya hal ini sudah dapat dibuktikan dengan fisik dan sudah sangat menjadi common sense diantara kita sesama manusia.

Lalu bagaimana dengan perintah agama yang belum pernah ada manusia di bumi ini yang pernah membuktikannya. Yang gw bicarakan di sini bukan hanya perkara ancaman hukuman ataupun janji kenikmatan dari Tuhan. Tapi lebih dari itu, konsekuensi yang menurut gw (lagi-lagi) amat logis.

Mari sejenak kita belajar kembali matematika dasar.
Dalam ilmu logika matematika, terdapat istilah implikasi yang biasanya dikenal dengan premis jika-maka dan disimbolkan dengan p -> q, artinya jika p, maka q. Dimana p adalah hipotesa dan q adalah konklusi. Sedangkan kontraposisi dari implikasi p -> q adalah ~q -> ~p, artinya jika tidak q, maka tidak akan p.

"Jika engkau mematuhi perintah Tuhanmu, maka surga balasannya."

Begitulah bunyi premis perintah agama yang biasa kita dengar dan ketika premis di atas dibuat kontraposisinya kira-kira beginilah bunyinya.

"Jika bukan surga balasannya, maka engkau tidak mematuhi perintah Tuhanmu."
atau dalam bahasa yang lebih ekstrim dan jelas.
"Jika dibalas dengan neraka, artinya engkau tidak mematuhi peruntah-Nya."

Apakah yang demikian itu tidak logis?
Atau memang kita hanya membutuhkan pembuktian fisik?
Lalu adakah salah satu dari kita yang mampu membuktikan itu?
Atau kita hanya menunggu hal itu mampu menjadi common sense dengan sendirinya?

Gw rasa setiap orang beragama harusnya mampu menjawab setiap pertanyaan di atas.
Lain halnya jika definisi kata beragama yang gw miliki berbeda dengan orang lain. Gw rasa tidak demikian.

Rabu, 17 Agustus 2011

tujuh belas


Tujuh belas Ramadhan.
Pertama kali Al-Qur'an diturunkan ke bumi melalui malaikat Jibril.
Hingga hari itu disebut sebagai hari yang istimewa; Nuzulul Qur'an.

Tujuh belas rakaat.
Adalah jumlah rakaat shalat wajib dalam satu hari satu malam.
Subuh: dua; Dzuhur: empat; Ashar: empat; Maghrib: tiga; Isya: empat.

Tujuh belas tahun.
Pertama kali gw difoto dan diminta tanda tangan untuk KTP.
Pertama kali juga gw berhasil memperoleh SIM A dan SIM C sekaligus.
Bahkan gw diberi kesempatan untuk menentukan nasib bangsa ini dengan memilih calon presiden republik ini.

Kini gw tahu kenapa hari kemerdekaan Indonesia jatuh pada tanggal tujuh belas.

Dirgahayu Indonesiaku!

Sabtu, 06 Agustus 2011

Tidak Mati = Abadi ?

Selama tiga tahun terakhir ini gw mencoba menarik sebuah hipotesis atas apa yang telah dan sedang terjadi di tempat gw bernaung saat ini, ya, kampus Institut Teknologi Bandung. 
Bahwa kegiatan-kegiatan yang berbau, berasa, serta berwarna "kemahasiswaan" selalu ada di sini, ya, di kampus Institut Teknologi Bandung. 
Ya, di kampus Institut Teknologi Bandung terdapat jiwa-jiwa mahasiswa yang tidak pernah mati, bahkan untuk tidur saja pun diper-sulit.

Apakah jiwa-jiwa mahasiswa yang tidak pernah mati adalah jiwa-jiwa yang abadi?

Apakah bau, rasa, serta warna ini adalah bau, rasa, serta warna yang abadi?

Dan apakah sesuatu yang tidak pernah mati adalah sesuatu yang abadi?



Terinspirasi oleh sebuah perhelatan besar yang baru saja berakhir,
PROKM-ITB 2011

Jumat, 15 Juli 2011

Satu Kosong; Sebuah Realita

Di suatu siang yang panas di bilangan Jakarta Barat, gw sedang duduk di belakang setir mobil sambil mengendarainya menuju arah tol Tangerang. Di samping kanan gw, Icang, partner Kerja Praktek gw di Greenbay Pluit Project, tengah duduk sembari jemarinya bermain dengan handphone barunya.

Tiba-tiba mobil yang sedang gw kendarai diminta untuk menepi oleh seorang bapak aparat penegak hukum sekaligus pelayan masyarakat. Berikut kutipan percakapannya.

Sambil membuka kaca, “selamat siang pak. Ada apa ya?”

“Siang, Mas. Mas bukan orang sini ya?”

“Iya Pak, kami dari Bandung. Tapi mau ke arah Tangerang. Memangnya ada apa ya, Pak?”

“Begini Mas, tadi Mas pindah jalur dari kiri ke kanan sehingga memotong laju kendaraan yang datang dari sebelah kanan. Itu tidak diperbolehkan Mas kalau di sini.”

“Oh, lalu kalau saya mau masuk tol Tangerang harus lewat mana ya pak? Soalnya saya tadi lihat papan penunjuk jalan kalau arah tol Tangerang itu lewat sini. Jadi kami yang saat itu sedang ada di jalur kiri harus pindah jalur ke kanan agar bisa masuk tol, Pak. Kalau nggak seperti itu bagaimana kami bisa menuju Tangerang? Lagipula kami tidak melanggar marka jalan kan, Pak?”

“Iya, Mas memang tidak melanggar marka jalan, tetapi Mas seharusnya tidak berpindah jalur karena untuk bisa menuju tol Tangerang nggak hanya lewat sini. Di depan sana (sambil menunjuk) akan ada lampu merah, kemudian Mas bisa belok kanan untuk masuk tol Tangerang.”

Wah, kalau gini ceritanya pasti semua orang yang bukan orang sini bakalan ngelanggar dong..
Bisa aja nih si Bapak.. (Ini suara hati gw saat itu)

“Jadi gimana nih, Mas?”

Gimana apanya, Pak?”

“Mas mau saya tilang?”

Ini si Bapak ngelawak apa serius sih? Lucu juga nih si Bapak. (Suara hati gw berpikir kalau ini natural)

“Lah, kalau saya memang salah menurut Bapak, silahkan tilang saya, pak!”

“Kalau ditilang mas harus datang ke pengadilannya loh. Mas bisa datang tanggal 22 Juli nanti?”

“Pengadilannya dimana ya, Pak?”

“Pengadilan Jakarta Barat sini. Dekat kan? Gimana?”

“Oke saya bisa kok, Pak. Tanggal 22 Juli kan, Pak?”

Kemudian si Bapak tampak sedang mengontak rekannya dengan alat handy talkie. “Tanggal 15 Juli bisa, Mas?”

“Wah, kenapa berubah, Pak? Tadi katanya tanggal 22 Juli..”

“Ternyata pengadilan baru bisa diadakan setelah seminggu dari waktu penilangan. Tapi jika terlalu lama juga kemungkinan pengadilannya juga nggak mau ngurusin. Nah, kebetulan seminggu dari hari ini adalah tanggal 15 Juli. ”

Aduh, tanggal 15 Juli kan ada wisuda HMS. Gimana yah? (Suara hati gw pun muncul lagi. Kali ini belum mulai muncul rasa curiga)

“Wah, saya nggak bisa kayaknya, Pak kalau tanggal 15 Juli. Saya ada wisuda. Saya kan mahasiswa, Pak. Gimana kalau tetap tanggal 22 Juli aja, Pak?”

“Jadi sebenarnya Mas ini mau ditilang atau nggak sih? Kok diminta untuk sidang nggak mau.”

“Kalau memang menururt Bapak saya salah, ya saya harus mau, Pak. Tapi saya bisanya tanggal 22 itu.”

“Wah, nggak bisa, Mas. Ini prosedurnya. Kalau memang nggak bisa datang, bisa titip kok.”

Ini udah mulai nggak bener nih.. (Suara hati gw mulai merasakan kejanggalan)

“Titip apa ya, Pak?”

“Ya titip denda, Mas. Jadi Masnya nggak perlu datang waktu sidang tanggal 15 Juli nanti tapi dendanya bisa tetap dibayar. (sambil menunjukkan ke gw surat tilang yang terdapat nominal denda yang cukup besar. Berkisar lima puluh ribu sampai satu juta rupiah)”

Tuh kan nggak bener.. (Suara hati gw emang yahud!)

“Aduh, Pak. Tanggal 22 aja yah, Pak. Saya betul-betul nggak bisa kalau tanggal 15. Tapi saya merasa jika saya memang salah saya harus disidang, Pak.”

Nggak bisa nih, Mas. Kalau mas mau disidang ya tanggal 15 Juli. Selain itu tidak bisa. Gimana, Mas? Saya nggak bisa lama-lama nih karena saya masih harus bertugas lagi. Nggak enak juga dilihat orang kalau lama-lama.”

Hah? Nggak enak? Kok negakkin peraturan malah nggak enak?. Udah nggak bener nih si Bapak. (Suara hati gw makin yakin kalau kondisi si Bapak saat ini sedang di atas angin lantaran gw seakan sedang berada dalam tekanannya.)

Gimana, Mas? Mau tetap sidang tanggal 15 atau titip sidang saja? Saya sudah tidak ada waktu lagi ini.”

“Mmm. Oke, Pak. Saya usahakan bisa datang tanggal 15 Juli.”

“Jangan “diusahakan”, harus dong kalau gitu! Nanti kalau surat ini sudah masuk pengadilan tapi Masnya nggak datang kan repot di saya. Kecuali Masnya sudah nitip sidang, lain ceritanya.”

“Oke, saya bisa datang, Pak.” (Ekspresi gw gw buat seakan-akan gw yakin secara tiba-tiba)

Bener nih, Mas? Kalau saya sudah menulis di surat tilang ini, Masnya harus benar-benar datang.” (Ekspresi si Bapak seketika berubah pucat)

“Bener, Pak. Saya rela mengorbankan wisuda saya karena kesalahan saya ini. Yah, jika memang saya benar-benar salah.”

Hahahahahaha. Dapet nih! (Suara hati gw mulai menunjukkan kemenangan.)

“Ah, Masnya keliatan nggak yakin nih buat datang sidang. Nanti percuma saya tulis disini ternyata Masnya nggak datang. Rugi di saya kalau begitu. Ya sudah, Masnya nggak usah saya tilang saja. Lain kali jangan diulang lagi ya!”

Hahahahahahahahaha. Ngakak gw! (Dengan suara hati tentunya.)

“Oh, terimakasih, Pak. Maafkan kami jika memang kami salah. Tenang aja, Pak, kami berusaha untuk tetap taat sama aturan kok. Selamat siang, Pak. Selamat melanjutkan tugas kembali.”

Kemudian gw menutup kaca seraya menginjak pedal gas lalu berteriak bersama-sama dengan Icang,

“Satu kosong booooyyyy..!!!!”

*Sayang seribu sayang si Icang nggak sempat merekam percakapan ini. Tapi gw jamin ini 100% nyata. Kalau nggak percaya, silahkan tanya si Bapak Pelayan Masyarakat itu atau mungkin teman-temannya.

Kamis, 07 Juli 2011

Semanis Brownies

6 Juni - 6 Juli 2011

Adalah waktu yang amat berharga untuk dilewati sekaligus amat menarik untuk diceritakan. Mengapa? Karena selama rentang waktu itu gw beserta partner gw, Fardy Muhammad Ichsan Sukirman (NIM 15008004), berusaha saling melengkapi satu sama lain demi terselesaikannya Kerja Praktek di Greenbay Pluit Project dengan baik, atau dalam bahasa kami, dengan manis, semanis brownies.


Kalau bicara soal Greenbay Pluit, mending kalian buka Greenbay Pluit aja biar lebih jelas. Tapi seperti kelompok-kelompok yang lainnya, kami juga melakukan kegiatan Kerja Praktek ini di salah satu perusahaan kontraktor terbesar di Indonesia. Tidak bermaksud melebih-lebihkan, tapi fakta bicara demikian. Hahaha.

Namanya PT. Total Bangun Persada. Sebuah kontraktor swasta yang saat ini sedang menangani 15 proyek sekaligus se-Indonesia ini yang bersedia menampung kami-kami ini yang haus akan ilmu (baca: gw dan Icang) untuk belajar sekaligus "mencuri" data selama sebulan, tidak lebih tidak kurang.
Terimakasih kepada Ibu Keyma, Pak Agung, Pak Wahyu, Pak Rushendi, Pak Punguan, Pak Irwanto, Pak Dwi, Pak Bayu, Pak Adri, Pak Sinaga, Pak Budi, Pak Awan, Pak Udin, Pak Micky, Pak Sas, Pak Anggoro, Pak Eric, Ibu Dwi, Ibu Winda, Pak Yandrie, Pak Bambang, Pak Tarsim, Pak Toto, Ibu Desi, Ibu Wanti, Pak Nurjaya, Pak Zul, Pak Wardi, Pak Santos, Aa Yumi, juga teman-teman seperjuangan dari UI (Dila, Inal, dan Reza) dan dari UNPAR (Andy, Alvin, dan Naldy), serta yang pasti Pak Henry, yang senantiasa rela "diganggu" oleh kami yang haus ilmu ini. *lebay

Oke. Singkat cerita gw dan Icang melalui hari-hari di proyek selama sebulan bersama bapak-bapak dan rekan-rekan yang tadi sudah gw sebutkan satu persatu. Hingga tibalah waktu jua yang memisahkan kita.

Sebelum kami berpisah, gw dan Icang berpikir untuk membelikan sesuatu yang cukup menggambarkan rasa terimakasih gw kepada mereka. Dan pilihannya jatuh kepadaaaaa.....

Brownies "Amanda"

Ketika itu gw berpikir mengenai kue manis itu. 
Brownies, menurut situs The Amazing of Brownies, menurut kabar, terciptanya brownies adalah karena ketidaksengajaan alias lalainya sang pembuat dalam mengolah kue dan memasukkan baking powder. Sehingga, kue cokelat yang hendak dibuatnya menjadi tidak mengembang. Namun sayangnya justru karena "ketidaksengajaan" itu malah membuat resep brownies ini ingin disebarluaskan. Resep brownies pertama kali dipublikasikan tahun 1897 di Sears, Roebuck Catalogue. Dalam sejarah kuliner, brownies termasuk katagori cookie, kue kecil berbahan dasar tepung, rasanya manis, dengan tekstur lembut dan renyah.

Yap, meskipun ini dengan "sengaja", finally gw dan Icang memutuskan untuk mengakhiri Kerja Praktek manis dengan orang-orang termanis ini dengan sesuatu yang manis. Semanis brownies.

Minggu, 29 Mei 2011

Frustrasi, bukan Frustasi!

Awalnya cuma gara-gara gw ngerjain suatu teka-teki silang di koran Kompas pagi ini, tapi malah jadi kepikiran dan membuat gw pengen nulis di sini.
mendatar :
28. Kecewa karena gagal meraih suatu cita-cita; 9 kotak.
Tadinya gw berpikir jawabannya adalah "frustasi". Namun ternyata kata "frustasi" hanyalah terdiri dari 8 huruf sedangkan yang dicari harus terdiri dari 9 kotak. Bahkan gw sempat berpikir kalau soalnya yang salah atau kotaknya salah.
Tapi kemudian gw terinspirasi untuk menggunakan sebuah search engine paling terkemuka di dunia (saat ini) yaitu Google. Inilah hasil pencariannya :


Ternyata memang ada kata "frustrasi" dan bukanlah "frustasi". Bahasa "frustasi" hanyalah bahasa yang seringkali kita gunakan namun sebenarnya bukanlah bahasa baku (meskipun Google menganggapnya benar). Sedangkan "frustrasi"-lah yang sebenarnya bahasa Indonesia yang baku dan ada maknanya dalam KBBI.
Dalam KBBI, "frustrasi" bermakna: [n] rasa kecewa akibat kegagalan di dl mengerjakan sesuatu atau akibat tidak berhasil dl mencapai suatu cita-cita: -- dapat timbul apabila jurang antara harapan dan hasil yg diperoleh tidak sesuai.
Dengan demikian, cocok sudah kata ini dengan pertanyaan pada soal teka-teki silang Kompas sehingga gw bisa melanjutkan pengerjaan TTS dengan riang gembira (nggak juga sih..).

FRUSTRASI
Menurut Drs. H. Ahmad Fauzi (juga menurut Google) dalam bukunya yang berjudul Psikologi Umum, ternyata ada tiga jenis frustrasi, yakni:
1. Frustrasi Lingkungan
---Frustrasi yang disebabkan oleh halangan /rintangan yang terdapat dalam lingkungan (faktor eksternal).
2. Frustrasi Pribadi
---Frutrasi yang tumbuh dari ketidakpuasan seseorang dalam mencapai tujuan dengan perkataan lain frustrasi pribadi ini terjadi karena adanya perbedaan antara tingkatan aspirasi dengan tingkatan kemampuannya.
3. Frustrasi Konflik
---Frustrasi yang disebabkan oleh konflik dari berbagai motif dalam diri seseorang. Dengan adanya motif saling bertentangan, maka pemuasan dari salah satu motif akan meyebabkan frustrasi bagi motif yang lain.

Sebenarnya gw juga agak nggak ngeh soal psikologi, tapi di sini paling tidak gw nggak sia-sia melakukan suatu pencarian terhadap satu kata dalam bahasa Indonesia yang (baru) gw tahu hari ini.

Intinya. 
Jadi buat teman-teman semua, gw cuma bisa ngasih tau kalau bahasa kita itu masih sangat besar peluang untuk kita explore lebih dalam lagi dan cari tahu lebih banyak lagi. Jangan cuma menjadi user terhadap bahasa kita sendiri, tapi jadilah owner sehingga kita mampu berbuat lebih banyak untuk Ibu Pertiwi.